Ilustrasi alat pendeteksi kebohongan
Ilustrasi alat pendeteksi kebohongan

Ilmuwan Kembangkan Alat Pendeteksi Kebohongan Untuk Persidangan.

makobar.com – Jika Anda berbohong, ada gerakan dari tubuh memicu rekfleks berbohong yang dapat diketahui oleh orang sekitar Anda.

Saat ini, para ilmuwan telah mengembangkan sistem Artificial Intelligence (AI) yang dapat mendeteksi ekspresi mikro serta mendeteksi kebohongan dan ini dinilai sudah ‘lebih baik secara signifikan’ daripada manusia.

Para peneliti berharap sistem tersebut bisa segera digunakan di ruang sidang untuk mengetahui apakah orang-orang mengatakan hal yang jujur.

Sistem AI, yang disebut Deception Analysis and Reasoning Engine (DARE), telah dikembangkan oleh para peneliti dari University of Maryland dan Dartmouth College. Untuk mengembangkan DARE, para peneliti melatih sistem tersebut menggunakan video orang-orang di ruang sidang.

“Dari sisi penglihatan, sistem kami menggunakan pengelompokan yang dilatih pada fitur video tingkat rendah yang memprediksi ekspresi mikro manusia,” kata para peneliti dalam suatu penelitian yang dipimpin oleh Dr. Zhe Wu, diterbitkan di arXiv.

Tim ini melatih AI untuk mengenali lima ekspresi mikro yang menunjukkan bahwa seseorang sedang berbohong. Ekspresi mikro itu antara lain mengerutkan kening, mengangkat alis, sudut bibir terangkat, gerakan bibir, dan tengokan kepala.

Setelah menyaksikan 15 video dari ruang sidang, DARE kemudian diuji apakah bisa mengetahui kebohongan seseorang di video terakhir. Hasil penelitian mengungkap, DARE berhasil menemukan 92% ekspresi mikro. Para peneliti menganggap kinerja sistem tersebut sudah baik.

Baca Juga :

Mereka kemudian memberikan tugas yang sama kepada manusia, yang hanya mampu menangkap 81% ekspresi mikro dari video tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, AI memiliki kemampuan lebih baik dari pada manusia untuk mengetahui kebohongan.

“Sistem penglihatan kami, yang menggunakan fitur visual tingkat tinggi dan rendah, secara signifikan lebih baik dalam mendeteksi tipuan dibandingkan dengan manusia,” kata para peneliti.

Mereka menyampaikan, sistem ini bisa lebih efektif lagi jika AI diberikan informasi lebih lanjut. Ketika informasi komplementer dari audio dan transkrip tersedia, deteksi tersebut dapat bekerja lebih baik. Demikian dilansir dari Daily Mail, Rabu (20/12/2017).

(mc/min)